Langsung ke konten utama

Dimulai darisini, Pulau Rinca.

2 hari 1 malam adalah waktu yang akan kita habiskan dengan berkeliling pulau-pulau yang berada disekitaran Labuan Bajo. Baiklah, mari kita mulai...


Pagi hari, kita sudah bersiap-siap mengemas perlengkapan masing-masing dan tidak sabar menengok keindahan Indonesia timur ini. Kita sudah sampai di pelabuhan saat itu, tempat berlabuh para perahu dan juga tempat kita akan memulai salah satu perjalanan yang tidak akan terlupakan. Perahu yang telah kita sewa sudah tiba, satu persatu dari kita memasuki perahu tersebut. Perahu yang tidak terlalu besar, namun sangat cukup untuk menampung 11 petualang yang ada, ditambah dengan 2 orang penghuni perahu tersebut yang berarti total menjadi 13 orang. Kami berunding terlebih dahulu dengan nahkoda, mengutarakan tujuan-tujuan yang telah kami persiapkan. Setelah berunding akhirnya kami setuju dengan tujuan yang telah dipersiapkan ditambah dengan rekomendasi dari nahkoda itu. Adapun tujuan yang akan kita kunjungi adalah Pulau Rinca, Pulau Padar, Pulau Sebayur, Pulau Kanawa, dan Pulau Bidadari. Dimulai dari Pulau Rinca...




Pulau Rinca.


Pulau Rinca adalah lokasi wisata yang dimana disana adalah kawasan taman nasional komodo selain Pulau Komodo. Kita memilih Pulau Rinca ketimbang dari Pulau Komodo sendiri setelah perundingan tadi. Dengan semangat yang membara-bara, perahu pun berangkat mengantar 11 orang petualang berkelana.
Takkan ada habisnya bila saya membahas pemandangan yang kami lewati ketika berlayar, satu kata yang saya tujukan untuk itu, menakjubkan!
Dan sampailah kita di dermaga Pulau Rinca, Loh Buaya setelah memakan waktu kurang lebih 2 jam. Kapal mulai menepi, dan 11 orang petualan satu persatu turun dan memasuki pintu gerbang Pulau Rinca.


Setelah melewati gerbang tersebut, kita bertemu dengan salah satu guide pulau tersebut. Kita pun diarahkan menuju tempat pendaftaran sebelum nantinya berkeliling pulau ini. Kita harus berjalan kaki kurang lebih 10 menit untuk sampai di tempat pendaftaran. Karena kita tiba disini siang hari, teriknya matahari sangat terasa kala itu, namun tidak menyurutkan semangat yang begitu kuat. Dan akhirnya kita tiba di tempat pendafaran, salah satu kawan saya mengisi data-data yang diminta dan kami membayar biaya administrasi perorangan. Selesai dengan hal-hal tersebut, kami akan berkeliling Pulau Rinca dengan ditemani seorang ranger dan guide tadi. Ada 2 jenis rute perjalanan untuk melihat komodo, jalur pendek lama perjalanan sekitar 30-45 menit dan jalur panjang 2-3 jam. Kita memilih jalur pendek. Perjalanan pun dimulai......
Dengan berjalan kaki, kami menyusuri Pulau Rinca.


Saat melakukan perjalanan, kami diberi informasi-informasi mengenai komodo dan tentang pulau ini sendiri. Kita disuguhkan berbagai cerita yang dilontarkan kedua orang tersebut. Lalu akhirnya kami bertemu dengan beberapa komodo yang "sedang bermalas-malasan". Akhirnya tercapai juga penantian untuk melihat langsung komodo di habitatnya. Selama ini hanya melihat dan mendengar cerita komodo di TV, yang menimbulkan kesan mengerikan, tetapi setelah bertemu langsung dengan komodo tak begitu mengerikan karena adanya ranger menemani perjalanan kami. Kami harus menjaga jarak dengan komodo karena apabila tergigit, nyawa bisa menjadi taruhannya. Saat mengambil foto, agak tegang memang. Tapi, kalo gak sekarang kapan lagi!  dan akhirnya memberanikan diri.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketabahan Do'a bulan Mei

Aku berdiri di antara harapan dan kesia-siaan, sembari menggenggam kanak-kanak kecemasan. Ku terobos dinding itu, pembatas antara khayal dan nyata. Kumpulan tanya berkecamuk di kepala, membungkam denting-denting waktu yang tak pernah usai. Ku temui kamu, tersudut mendekap pilu. Dengan gemetar tangan dan, kali ini, ada yang lain dari rembulan. Dipantulkannya bayanganmu, yang tersudut mendekap tangis. Masih saja kau membuahkan senyuman di atas kesedihan. Air matamu menghapus tanya-tanya yang kau tulis di hamparan kesunyian, sebelum bisa kau jawab. Dari celah malam, aku tatap bayanganmu dengan wajah pasi, dengan gemetar tangan, yang membangunkan lelapnya burung-burung tidur. Kemudian rasa, menjelma dalam sebaris catatan kecil, di balik ketabahan do'a bulan Mei. Nyata adalah hak sang Pencipta. Manusia; merayakan cita dengan suka, ataupun luka.

Tarian Hujan

Belakangan, iring-iringan hujan kerap kali mendatangi kota. Tetes demi tetes yang menghujam setiap sudut kota. Beberapa ada yang senang. Menghirup aroma tanah basah sembari meneguk teh panas di dalam secangkir gelas dengan mata terpejam. "Jangan dulu berakhir" begitu gumamnya, berbicara dengan dirinya yang lain di dalam khayal. Itu bagian kesukaannya. Larut... Sesekali, sayup-sayup gemuruh petir mengiringi tarian hujan. Langit abu-abu menjadi panggung pertunjukkan. Di tempat yang lain, beberapa orang berkumpul bersama membelakangi pertunjukkan itu. Mereka malah asik berbagi cacian. Entahlah, yang terpenting bagi mereka hanyalah suara tawa yang keluar dari celah bibir. Saat hujan semakin lama menunjukkan keelokannya, di sudut kota yang lain, ada yang menggerutu; berharap pertunjukkan ini segera berakhir. Langkahnya terhenti. Kota terasa sesak baginya, tak ada ruang baginya untuk melangkah. Sepeda motor itu tak akan bisa melaju. Dia tertegun, mencoba menikmati pertunjuk...

1/365

Beralaskan matras, perbincangan kami menembus riuhnya gemuruh angin malam. Berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Seliar itu. Semua berada di luar tenda. Semua yang saya maksudkan adalah 5 orang kawan saya, dan saya sendiri yang saat itu memilih berada di ketinggian untuk menikmati pergantian tahun. Sayup-sayup genjrengan gitar dan nyanyian-nyanyian terdengar. Ya, kami memilih untuk berjarak dengan kumpulan-kumpulan lainnya. Terkadang, sepi lebih lihai dalam merayu. Dan lalu.. Sorak-sorai kembang api berterbangan di lapang langit. Dari sini, lampu-lampu kota nampak berseri-seri. Dirayunya kelabu. Selalu menyenangkan menyaksikan gemerlap lampu di antara gelap. Bintang-gemintang malu-malu, bersembunyi di sebalik awan pekat. Terserah, tiap-tiap memiliki caranya masing-masing. Saat itu, semua larut dalam kebahagiaan, mungkin, karena bahagia adalah esensi hidup ini dan hak manusia yang paling asasi. Saya termangu di antara keramaian. Masih saja merasa sepi. Sembari memandangi ...

Hujan Yang Tak Kunjung Berkesudahan.

Selubung kelabu perlahan menyelusup celah-celah dinding kalbu. Lembut usapan angin nan mendayu-dayu. Ditutupnya jendela, tempat anak-anak tanya liar berterbangan. Atapun selimut itu; pelarian diri dari bayang-bayang. Hangatnya yang tak pernah terbalaskan malam. Lalu disandarkannya raga pada dinginnya dinding. Kian menggigil. Nada-nada sendu memeluk erat,  enggan melepaskan. Di antara suka dan duka, di antara harap dan nyata menekur tertinggalkan waktu. Pikiran dan perasaan telah menjadi tambahan beban, menghisap segala dari tubuh. Hari telah malam dan lampu berpancaran di mana-mana. Hanya pikiran diri juga yang tanpa terang. Ruangan ini adalah tempat meneduh --- hujan yang tak kunjung berkesudahan.

Sampai, nanti.

Gaduh ini bersemayam disudut akal, Berteriak lantang didalam keheningan hati. Terkadang, memang sulit berdamai dengan kenyataan, Memahami alur garis yang tak pernah bertemu dalam satu titik. Sudahlah, biarkan nasib membuat jalannya sendiri. Kita lah insan; yang ditenangkan oleh takdir. Aku lah penyair; yang mensisipkan harapan disebalik tulisan. Memasangkan sayap pada tiap kata nya,  Lalu menerbangkan nya bersama lantunan do'a di cakrawala. Sampai nanti,  Kelak kita kan bersua kembali.

Di Antara Hiruk-Pikuk

Di antara hiruk pikuk kendaran yang membelah jalanan ibu kota, saya menyusuri bahu jalan. Tanpa teman. Hanya ada beberapa batang rokok di saku dan seperangkat headset  yang siap menemani langkah saya. Langkah saya terhenti di jembatan penyebrangan yang umum digunakan masyarakat di sini. Sejenak, saya menengok sekitar. Terlihat jelas, sekumpulan kendaraan saling bergerombol bersama para pengemudinya untuk sampai di tujuannya masing-masing. Ya, langkah kita terpisahkan oleh tujuan masing-masing. Sebagian mungkin sudah tidak sabar menikmati hangatnya pelukan keluarga tercinta, atau mungkin juga tergesa-gesa untuk segera bersua dengan kawan-kawannya. Beberapa masih ada yang berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menyambung rantai hidup. Seperti pedagang kopi keliling di sudut sana yang masih menanti dagangannya diserbu orang-orang. Sedangkan saya. Di sini, termenung mencari-cari jati diri. Berada dalam jebakan usia. Berbekal tekad yang kuat berusaha mencari jalan untuk me...

Segelas Kopi Pertama

Segelas kopi pertama di hari ini.. Hari masih terlalu dini untuk dilalui oleh segelintir manusia. Lihat saja, di luar sana jalanan masih bisu, menyepi menanti lampu jalanan dimatikan. Langkah-langkah tersapu debu-debu yang perlahan hilang. Kemarin malam, langit mengguyur kota; menenggelamkan tetesan duka. Semua, telah berlalu bersama waktu dan tanda tanya yang mengikuti, ataupun penyesalan di sebaliknya. Berteriak keras di dalam dinding hati, lantang namun tak ada yang mendengar. Segelintir manusia menunggu hari yang baru tiba, melepaskan rantai yang membelenggu dengan harapan yang siap mengudara. Segelas kopi pertama di hari ini terdiam di sudut ruangan. Tanpa tanda tanya, tanpa penyeselan, dia perlahan hilang.  Merelakan dirinya dibiarkan habis tak tersisa. Di sini, di ruangan ini, aku sedang sibuk merangkai mimpi. Dengan ucapan-ucapan permintaan yang perlahan keluar dari celah bibir kepada yang Maha Kuasa,  mengalun merdu di antara kesunyian yang masih saja...

mengapa?

Kamu tak perlu memahami apa-apa, Disini, kepastian seutuhnya milik kematian. Selebihnya hanya bualan belaka. Bahkan perdamaian pun masih mencari-cari makna. Kekal; pintamu pada waktu. Sembari ragu mengangkat dagu. Lantas berjemawa sebagai jawara. Mengapa bimbang mengarungi gelombang?.

Entahlah.

Rintik hujan pun turun di bawah naungan birunya langit, ataupun dari sebalik hamparan cahaya mentari. Memang seperti itu, tidak semua harus dimengerti. Terkadang, membiarkan ujung jarum terus berdetak adalah pilihan yang baik. Beberapa orang senang menyaksikan siang dilahap malam. Selebihnya memilih asap-asap keluar dari celah bibir. Apa yang membuatmu senang? Entahlah, senyuman itu batas antara harapan dan kenyataan. Di sini, terkaanku selalu begitu, semu. Angannya dialah salah satu. Semua ingin jadi alasan. Lalu, nanar setelahnya. Pun dengan alur pikirmu, nan sulit diterima akal.

Di Ambang Ketidak-mungkinan.

Ah, Bandung; Di dalamnya, hingar-bingar memadati tiap-tiap sudut. Saat langit menjadi biru, saat khayal mengepul merayu-rayu waktu. Berharap keajaiban melengkapinya ---- manusia. Lalu, matahari terbenam di peraduannya. Menenggalamkan tetes keringat lara. "Kembalikan senja kami!"  teriak anak kecil sambil merengek-rengek. Seiring bertambahnya usia, mungkin kita mulai menjadi pelupa. Luput dari benak, di sini, semua diciptakan dengan batas. Dan kita, tak pernah mengerti mengapa tarian nasib tak bergerak seirama. Gumam pertanyaan melengkapi hidup kita. Kita tak akan bisa melewati batas ketidakmungkinan itu, nak.