Langsung ke konten utama

Bukankah Begitu?





Wah.. lama tak bersua. Sosial Media dan kehidupan nyata menyita waktuku belakangan ini. Dengan berbagai kesibukan lama dan baru, halaman blog ini tak pernah ku tengok lagi. Berbagai macam pikiran mungkin harus dituangkan. Lalu sekarang, aku akan mulai kembali menuangkan pikiran pada wadah yang sudah seharusnya menampung semua pikiran ini..

Di sini-lah aku sekarang berdiri. Perlahan beranjak dari masa remaja dan sedang menjalani rutinitas sebagai budak dari perusahaan. Sejujurnya, bukan satu hal yang aku idam-idamkan. Tapi, mau dikatakan apalagi? Prinsip itu runtuh dengan sendirinya. Atau mungkin mental-ku yang tak sekuat itu.

Kehidupan ini sejatinya tentang menerima apa yang memang dibekali oleh Yang Maha Kuasa. Selebihnya, tentang semua kekecewaan dan harapan yang semakin berjalan menjauh, kedua bola mata biarkan saja meneteskan tangis. Waktu tak akan menunggu untuk kita melangkah kembali.

Bila datang dan pergi adalah definisi hidup, ya, saya setuju. Semakin lama kaki ini berjalan di atas tanah bumi ini, semakin banyak hal yang berjalan pergi. Begitupun sebaliknya. Terkadang kamu merasa menjadi orang asing di setiap hari yang kamu jalani.

Manusia mungkin memang diciptakan untuk berusaha dan bertahan. Bukankah begitu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketabahan Do'a bulan Mei

Aku berdiri di antara harapan dan kesia-siaan, sembari menggenggam kanak-kanak kecemasan. Ku terobos dinding itu, pembatas antara khayal dan nyata. Kumpulan tanya berkecamuk di kepala, membungkam denting-denting waktu yang tak pernah usai. Ku temui kamu, tersudut mendekap pilu. Dengan gemetar tangan dan, kali ini, ada yang lain dari rembulan. Dipantulkannya bayanganmu, yang tersudut mendekap tangis. Masih saja kau membuahkan senyuman di atas kesedihan. Air matamu menghapus tanya-tanya yang kau tulis di hamparan kesunyian, sebelum bisa kau jawab. Dari celah malam, aku tatap bayanganmu dengan wajah pasi, dengan gemetar tangan, yang membangunkan lelapnya burung-burung tidur. Kemudian rasa, menjelma dalam sebaris catatan kecil, di balik ketabahan do'a bulan Mei. Nyata adalah hak sang Pencipta. Manusia; merayakan cita dengan suka, ataupun luka.

Tarian Hujan

Belakangan, iring-iringan hujan kerap kali mendatangi kota. Tetes demi tetes yang menghujam setiap sudut kota. Beberapa ada yang senang. Menghirup aroma tanah basah sembari meneguk teh panas di dalam secangkir gelas dengan mata terpejam. "Jangan dulu berakhir" begitu gumamnya, berbicara dengan dirinya yang lain di dalam khayal. Itu bagian kesukaannya. Larut... Sesekali, sayup-sayup gemuruh petir mengiringi tarian hujan. Langit abu-abu menjadi panggung pertunjukkan. Di tempat yang lain, beberapa orang berkumpul bersama membelakangi pertunjukkan itu. Mereka malah asik berbagi cacian. Entahlah, yang terpenting bagi mereka hanyalah suara tawa yang keluar dari celah bibir. Saat hujan semakin lama menunjukkan keelokannya, di sudut kota yang lain, ada yang menggerutu; berharap pertunjukkan ini segera berakhir. Langkahnya terhenti. Kota terasa sesak baginya, tak ada ruang baginya untuk melangkah. Sepeda motor itu tak akan bisa melaju. Dia tertegun, mencoba menikmati pertunjuk...

1/365

Beralaskan matras, perbincangan kami menembus riuhnya gemuruh angin malam. Berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya. Seliar itu. Semua berada di luar tenda. Semua yang saya maksudkan adalah 5 orang kawan saya, dan saya sendiri yang saat itu memilih berada di ketinggian untuk menikmati pergantian tahun. Sayup-sayup genjrengan gitar dan nyanyian-nyanyian terdengar. Ya, kami memilih untuk berjarak dengan kumpulan-kumpulan lainnya. Terkadang, sepi lebih lihai dalam merayu. Dan lalu.. Sorak-sorai kembang api berterbangan di lapang langit. Dari sini, lampu-lampu kota nampak berseri-seri. Dirayunya kelabu. Selalu menyenangkan menyaksikan gemerlap lampu di antara gelap. Bintang-gemintang malu-malu, bersembunyi di sebalik awan pekat. Terserah, tiap-tiap memiliki caranya masing-masing. Saat itu, semua larut dalam kebahagiaan, mungkin, karena bahagia adalah esensi hidup ini dan hak manusia yang paling asasi. Saya termangu di antara keramaian. Masih saja merasa sepi. Sembari memandangi ...

Hujan Yang Tak Kunjung Berkesudahan.

Selubung kelabu perlahan menyelusup celah-celah dinding kalbu. Lembut usapan angin nan mendayu-dayu. Ditutupnya jendela, tempat anak-anak tanya liar berterbangan. Atapun selimut itu; pelarian diri dari bayang-bayang. Hangatnya yang tak pernah terbalaskan malam. Lalu disandarkannya raga pada dinginnya dinding. Kian menggigil. Nada-nada sendu memeluk erat,  enggan melepaskan. Di antara suka dan duka, di antara harap dan nyata menekur tertinggalkan waktu. Pikiran dan perasaan telah menjadi tambahan beban, menghisap segala dari tubuh. Hari telah malam dan lampu berpancaran di mana-mana. Hanya pikiran diri juga yang tanpa terang. Ruangan ini adalah tempat meneduh --- hujan yang tak kunjung berkesudahan.

Sampai, nanti.

Gaduh ini bersemayam disudut akal, Berteriak lantang didalam keheningan hati. Terkadang, memang sulit berdamai dengan kenyataan, Memahami alur garis yang tak pernah bertemu dalam satu titik. Sudahlah, biarkan nasib membuat jalannya sendiri. Kita lah insan; yang ditenangkan oleh takdir. Aku lah penyair; yang mensisipkan harapan disebalik tulisan. Memasangkan sayap pada tiap kata nya,  Lalu menerbangkan nya bersama lantunan do'a di cakrawala. Sampai nanti,  Kelak kita kan bersua kembali.

Di Antara Hiruk-Pikuk

Di antara hiruk pikuk kendaran yang membelah jalanan ibu kota, saya menyusuri bahu jalan. Tanpa teman. Hanya ada beberapa batang rokok di saku dan seperangkat headset  yang siap menemani langkah saya. Langkah saya terhenti di jembatan penyebrangan yang umum digunakan masyarakat di sini. Sejenak, saya menengok sekitar. Terlihat jelas, sekumpulan kendaraan saling bergerombol bersama para pengemudinya untuk sampai di tujuannya masing-masing. Ya, langkah kita terpisahkan oleh tujuan masing-masing. Sebagian mungkin sudah tidak sabar menikmati hangatnya pelukan keluarga tercinta, atau mungkin juga tergesa-gesa untuk segera bersua dengan kawan-kawannya. Beberapa masih ada yang berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menyambung rantai hidup. Seperti pedagang kopi keliling di sudut sana yang masih menanti dagangannya diserbu orang-orang. Sedangkan saya. Di sini, termenung mencari-cari jati diri. Berada dalam jebakan usia. Berbekal tekad yang kuat berusaha mencari jalan untuk me...

Segelas Kopi Pertama

Segelas kopi pertama di hari ini.. Hari masih terlalu dini untuk dilalui oleh segelintir manusia. Lihat saja, di luar sana jalanan masih bisu, menyepi menanti lampu jalanan dimatikan. Langkah-langkah tersapu debu-debu yang perlahan hilang. Kemarin malam, langit mengguyur kota; menenggelamkan tetesan duka. Semua, telah berlalu bersama waktu dan tanda tanya yang mengikuti, ataupun penyesalan di sebaliknya. Berteriak keras di dalam dinding hati, lantang namun tak ada yang mendengar. Segelintir manusia menunggu hari yang baru tiba, melepaskan rantai yang membelenggu dengan harapan yang siap mengudara. Segelas kopi pertama di hari ini terdiam di sudut ruangan. Tanpa tanda tanya, tanpa penyeselan, dia perlahan hilang.  Merelakan dirinya dibiarkan habis tak tersisa. Di sini, di ruangan ini, aku sedang sibuk merangkai mimpi. Dengan ucapan-ucapan permintaan yang perlahan keluar dari celah bibir kepada yang Maha Kuasa,  mengalun merdu di antara kesunyian yang masih saja...

mengapa?

Kamu tak perlu memahami apa-apa, Disini, kepastian seutuhnya milik kematian. Selebihnya hanya bualan belaka. Bahkan perdamaian pun masih mencari-cari makna. Kekal; pintamu pada waktu. Sembari ragu mengangkat dagu. Lantas berjemawa sebagai jawara. Mengapa bimbang mengarungi gelombang?.

Entahlah.

Rintik hujan pun turun di bawah naungan birunya langit, ataupun dari sebalik hamparan cahaya mentari. Memang seperti itu, tidak semua harus dimengerti. Terkadang, membiarkan ujung jarum terus berdetak adalah pilihan yang baik. Beberapa orang senang menyaksikan siang dilahap malam. Selebihnya memilih asap-asap keluar dari celah bibir. Apa yang membuatmu senang? Entahlah, senyuman itu batas antara harapan dan kenyataan. Di sini, terkaanku selalu begitu, semu. Angannya dialah salah satu. Semua ingin jadi alasan. Lalu, nanar setelahnya. Pun dengan alur pikirmu, nan sulit diterima akal.

Di Ambang Ketidak-mungkinan.

Ah, Bandung; Di dalamnya, hingar-bingar memadati tiap-tiap sudut. Saat langit menjadi biru, saat khayal mengepul merayu-rayu waktu. Berharap keajaiban melengkapinya ---- manusia. Lalu, matahari terbenam di peraduannya. Menenggalamkan tetes keringat lara. "Kembalikan senja kami!"  teriak anak kecil sambil merengek-rengek. Seiring bertambahnya usia, mungkin kita mulai menjadi pelupa. Luput dari benak, di sini, semua diciptakan dengan batas. Dan kita, tak pernah mengerti mengapa tarian nasib tak bergerak seirama. Gumam pertanyaan melengkapi hidup kita. Kita tak akan bisa melewati batas ketidakmungkinan itu, nak.